07/06/12

Dari Prestise, Internasionalisasi NU Sampai Aplikasi ASWAJA NU



Bermula dari Komite Hijaz sebagai organisasi embrio Nahdlatul Ulama’, ia mengawali sepak terjang NU di kancah Internasional. kesuksesaan Komite Hijaz dalam memperjuangkan jaminan kebebasan bermadzhab di Arab Saudi menunjukkan bahwa prestise para Ulama’ madzhab (syafi’iyah, malikiyah, hanabilah dan hanafiyah) di Indonesia begitu besar di mata mereka sehingga mereka mengiyakan tuntutan tersebut. Selain menuntut jaminan kebebasan bermadzhab, Komite Hijaz juga menuntut perbaikan penyelenggaraan ibadah haji  dan penentuan tarif resmi untuk semua kegiatan haji. Tuntutan ini juga mendapat respon dari pemerintah Arab Saudi dengan mengeluarkan tarif resmi bagi semua kegiatan haji, bahkan jamaah haji yang merasa membayar lebih dari ketentuan tarif resmi dapat mengklarifikasi lewat wakil di Arab Saudi. Walhasil, Muhammadiyah dan Sarekat Islam yang awalnya menyambut hangat keputusan asas tunggal madzhab Wahabi di Arab Saudi kebakaran jenggot dengan keputusan jaminan kebebasan bermadzhab tersebut.
Sebegitu terhormatkah Komite Hijaz sebagai organisasi para Ulama madzhab Indonesia dimata mereka?. Berbicara hal ini, maka kita harus membuka lembaran sejarah abad 19 dan awal abad 20 di Arab Saudi sebagai awal Indonesia-waktu itu Hindia-Belanda-mendapat tempat terhormat dimata mereka. Pada waktu itu sederet santri-santri Indonesia yang menimba ilmu di sana berhasil dengan gemilang menuai prestasi keilmuan islam, sehingga mereka berubah wujud menjadi ulama’-ulama’ madzhab yang disegani. Mereka mampu bersaing dengan ulama’-ulama’ lokal dalam bidang ilmu yang mereka ampu. Diantaranya adalah Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang sempat menjadi Imam Masjidil Haram, Syekh Nawawi Al-Bantani, Sheikh Ihsan Al-Jampesi, Syekh Muhammad Mahfudz Al-Tirmasi, dsb. Kepopuleran mereka waktu itu bukan dikawasan Arab Saudi saja, bahkan Universitas Al-Azhar Mesir menggunakan sebagian karya mereka sebagai kurikulumnya, belum lagi di Negara Timur Tengah yang lain.
Maka dengan kepopuleran para ulama’ madzhab asal Indonesia tersebut otomatis telah membawa nama Indonesia memiliki tempat yang terhormat dimata dunia arab, khususnya Arab Saudi, sehingga sampai Komite Hijaz di utus untuk meminta rekomendasi jaminan kebebasan bermadzhab di Arab Saudi, Komite Hijaz sebagai organisasi para ulama’ madzhab Indonesia berhasil dengan gemilang.  Ini menunjukkan bahwa para ulama’ madzhab Indonesia, bahkan sampai saat ini masih memiliki prestise yang tinggi dimata Timur Tengah.
Terbukti, ketika tongkat estafet para ulama’ madzhab Indonesia jatuh pada organisasi Nahdlatul Ulama’ sebagai titisan mereka. NU dengan mudah bisa memainkan perannya menjadi penengah di daerah konflik Timur tengah. Gus Dur bisa menangkap sinyal itu. Sebagai orang terpelajar NU, akhirnya Gus Dur merambah ke Negara Barat membawa NU untuk menancapkan taringnya. Gus Dur melihat minus NU di dunia Barat dengan jelas. Misi itu makin mengental ketika Gus Dur memegang tampuk kepemimpinan NU mulai tahun 1984 sampai 1999. Maka dampak dari gejolak tersebut corak kepemimpinan Gus Dur sebagai ketua Tanfidziyah PBNU waktu itu agak condong ke kiri-kirian karena memang terlalu mesra dengan dunia Barat. Walhasil, Gus Dur sukses membangun prestise NU di dunia Barat. Berbagai penghargaan dari dunia Barat diraihnya. Disamping itu Gus Dur juga memperoleh banyak gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lebaga pendidikan dunia. Diantaranya, Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis tahun 2000. Maka disini bisa diartikan bahwa kesuksesan Gus Dur didunia Barat sebagai petinggi NU otomatis membawa kesuksesan NU yang berwajah kekirian.
Nah, sekarang sempurnalah prestise NU di Timur dan Barat. Natijahnya, kalau dahulu para Ulama’ Madzhab Indonesia termasuk Komite Hijaz membangun prestise NU di Timur Tengah, maka Gus Dur dkk membangun prestise NU di Barat. Kini NU tengah memainkan perannya sebagai organisasi terpandang dunia yang laku pasaran dimana saja. Pada posisi ini ketika KH. Hasyim Muzadi memegang tongkat kepemimpinan NU tahun 2000 sampai 2010, dengan mudah memperkenalkan NU lebih dalam pada dunia dengan modal prestise NU yang telah terbangun mapan. Maka aplikasinya, waktu itu PBNU memulainya dengan membentuk Konferensi Ulama dan Cendekiawan Muslim se-Dunia (International Confrence of Islamic Scholars/ICIS). ICIS I digelar tahun 2004. Tema yang diangkat seputar rekonstruksi pemikiran keagamaan untuk mempererat hubungan antaragama dan antarbangsa. Pada tema ini NU ingin menegaskan dirinya sebagai organisasi islam Indonesia yang memiliki ciri khas yang tidak di temukan pada organisasi-organisasi islam dunia yang lain. ICIS II tahun 2006 mengkaji isu perdamaian dan keadilan global. Sedangkan ICIS III membahas perdamaian dan penyelesaian konflik di negara-negara Islam.
Konferensi itu melibatkan 350 peserta dari 60 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Serikat. Mereka terdiri dari para ulama, cendekiawan, akademisi, pengamat, praktisi resolusi konflik multietnis dan non-partisan. Semua organisasi Internasional dan nasional merespon positif atas langkah yang diambil PBNU karena posisi NU di dunia Internasional telah terkenal dengan sifat tawassut, tawazun, tasamuh dan ta’adul yang dibangkitkan oleh KH. Hasyim Muzadi sebagai ketua PBNU melalui dasar prestise NU yang telah mapan didunia Internasional. Misi Internasionalisasi NU pada masa ini telah sukses menembus jendela Internasional. Kini NU yang di nahkodai oleh KH. Said Agil Siraj tinggal memainkan peran tersebut dengan lihai dan harus lebih intens menawarkan dan mengaplikasikan aswaja NU di dunia Internasional secara maksimal, bukan hanya Internasionalisasi belaka. NU memiliki modal itu
Melihat potensi ini, bangsa Indonesia harus dapat bersinergi dengan NU dalam beberapa bidang keahlian. Untuk itulah pada tahun 2010 lalu, Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono mengadakan MoU dengan pengurus PBNU dalam sebuah pertemuan di Istana Negara. Lima hal yang menjadi prioritas utama dalam MoU yang ditawarkan SBY pada NU, Pertama, menanggulangi gerakan radikalisasi. selain pendekatan hukum dan keamanan yang telah dilakukan aparat pemerintah. Maka yang tak kalah pentingnya adalah pendekatan cultural dan keagamaan. NU punya potensi itu.
Kerjasama kedua yang mungkin dilakukan adalah di bidang peningkatan ekonomi, terutama dalam penimngkatkan ketahanan pangan, pengembangan usaha ekonomi mikro dan ketahanan energi. Program ini perlu dilakukan secara luas agar bisa menjangkau lapisan rakyat paling bawah.
Ketiga, kerjasama dalam bidang pendidikan, terutama dengan pendidikan moral dan penguatan character building. Keempat, suatu hal yang sangat urgen yang harus melibatkan para ulama adalah penanggulangan climate change. Kelima adalah pengembangan dialog peradaban untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Kedepan, pengaruh NU yang bercorak islam rahmatan lil alamin di dunia Internasional akan mirip seperti pengaruh NU ditingkat nasional karena memiliki pendidiran fi kalimatin sawa’ sehingga mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama dan menciptakan babak baru peradaban di didunia Islam. Dunia akan menjadi seperti warna Indonesia besar yang memiliki warna pancasila besar karena aplikasi sikap ajaran ASWAJA NU besar dalam mengawal stabilitas Internasional. Waktu itulah Indonesia kecil menjadi pusat peradaban islam modern seperti yang telah diprediksikan oleh Nur Kholis Madjid dan Masdar Farid Masudi. Bukan hal mustahil..
Alumni Sidogiri, sekarang aktif sebagai tenaga pengajar ASWAJA di MA Riyadlus Sholihin Rejing sekaligus pengurus PC RMI Kraksaan.

Read more »

17/12/11

Biografi Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki


Bersama Sayyid Ali bin Muhammad
Al-Habsy Ketapang.


Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki yang tempatnya sangat masyhur dekat Bab As-salam. Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Makkah terkemuka lainnya, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa’id Yamani, dan lain-lain.

Sayyid Muhammad memperoleh gelar Ph.D-nya dalam Studi Hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami’ al-Azhar di Mesir, pada saat baru berusia dua puluh lima tahun. Beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi Hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan juga anak benua Indo-Pakistan, dan memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashhur al Haddad, Syaikh Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Marokko, Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, Maulana Zakariyya Kandihlawi, dan banyak lainnya. 
                                                                                               
Sayyid Muhammmad merupakan pendidik Ahlus Sunnah wal Jama'ah, seorang ‘alim kontemporer dalam ilmu hadits, ‘alim mufassir (penafsir) Qur’an, Fiqh, doktrin (‘aqidah), tasawwuf, dan biografi Nabawi (sirah). Sayyid Muhammad al-Makki merupakan seorang 'aliim yang mewarisi pekerjaan dakwah ayahanda, membina para santri dari berbagai daerah dan negara di dunia Islam di Makkah al-Mukarromah. Ayahanda beliau adalah salah satu guru dari ulama-ulama sepuh di Indonesia, seperti Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy'ari, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Maimun Zubair dan lain-lain.
Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”. Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan.

Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid
Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.

Sebagaimana adat para Sadah  dan Asyraf  ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.

Dalam meneruskan perjuangan ayahandanya, Sayyid Muhammad sebelumnya mendapatkan sedikit kesulitan karena beliau merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah melanjutkan studi dan ta'limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihannya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidil Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universitas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil membuka majlis ta'lim dan pondok di rumah beliau. Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjidil haram atau di rumah tidak bertumpu pada ilmu tertentu seperti di Universitas, akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan mencicipi apa yang diberikan Sayyid Muhammad 

Maka dari itu beliau selalu menitik beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya, beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama. Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di Indonesia, India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dakwah Sayyid Muhammad al Maliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit yang masuk ke dalam pemerintahan.

Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari, beliau juga mengasuh pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar, para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama. Sayyid Muhammad al Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih- lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. 

Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku, baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan memecahkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang benar bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. 

Sayyid Muhammad tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta'lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak sependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, mereka sangat pandai, di samping menguasai bahasa Arab, mereka juga menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan pegangan dan referensi di negara-negara mereka. 

Pada akhir hayat beliau saat terjadi insiden teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syekh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti "Hiwar Fikri" di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 DhulQo'idah 1424 H dengan judul "Al-qhuluw wal I'tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah", di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist (keras). Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul "Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama". Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da'wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas. Pada tg 11/11/1424 H, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da'wah. 

Di samping tugas beliau sebagai da'i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau juga seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll. Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. 

Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka. Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan oleh ‘rumah Najd’ dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf. Saat kaum Salafi-Wahhabi mendiskreditkan beliau, beliau pun menulis lebih banyak buku dan mendirikan Zawiyyah beliau sendiri yang menjadi “United Nations” (Perserikatan Bangsa- Bangsa) dari para ‘Ulama. 

Akhirnya, protes dari dunia Muslim memaksa kaum Salafi-Wahhabi untuk menghentikan usaha mereka mem-peti es-kan sang ‘alim kontemporer’ yang paling terkenal dalam mazhab Maliki ini. Beberapa di antara mereka bahkan mulai mendukung beliau. Kedengkian mereka sebenarnya didorong oleh fakta bahwa Sayyid Muhammad al-Maliki jauh lebih unggul untuk dijadikan tandingan mereka. Dengan sendirian saja, beliau mengambil Islam Sunni dari klaim tangan-tangan Neo-Khawarij Salafi-Wahhabi dan menempatkannya kembali ke tangan mayoritas ummat ini. Melalui berbagai karya-karyanya yang menonjol, beliau menyuntikkan kepercayaan diri yang amat dibutuhkan dalam perdebatan saat kaum jahil yang mengandalkan ijtihad pribadi mulai meracuni pemikiran umat Islam.

Beliau Wafat

Jumat 15 Ramadhan, Makkah dan dunia Islam menangis. Setelah azan subuh dikumandangkan dan sholat subuh didirikan di Masjidil Haram- Makkah, tersiarlah berita bahwa Sayyid Mohammad bin Alwi Almaliki, wafat. Beliau meninggal sekitar pukul 6 pagi di salah satu rumah sakit di Makkah, setelah beberapa jam saja berjuang melawan penyakit yang datang secara mendadak. Berita itu membuat cukup kabut keluarga, murid-muridnya, dan masyarakat Makkah yang tengah menunggu kepulihan kembali kesehatan beliau. Tapi sebaliknya berita yang didengar adalah wafatnya beliau. Ini benar-benar yang membuat mereka menjadi kalang kabut.
Begitu mendengar berita duka dari mulut ke mulut, ribuan masyarakat pencinta beliau panik. Mereka kalang-kabut dan berbondong-bondong menyerbu rumah kediaman beliau untuk menyaksikan kebenaran wafatnya beliau yang secara mendadak. Karena mereka hampir tidak percaya dengan berita itu. Suasana pun tambah panik lagi pagi itu setelah jasad Almarhum dibawa dari rumah sakit ke rumah beliau.

Ribuan orang berduyun-duyun ke rumah beliau ingin menyaksikan jenazah Almarhum secara langsung. Kepanikan warga Makkah itu membuat macet lalu-lintas. Jalan menuju Hay al Rashifah, rumah kediaman beliau, dipadati kendaraan dan manusia.

Beberapa jam sebelum kepulangan beliau ke rahmatullah, tidak sedikit masyarakat dan santri datang seperti biasa ke rumahnya di hay Rashifah Makkah untuk mendengarkan wejangan dan ceramah Ramadhan yang biasa di berikan setiap hari usai sholat tarawih. Mereka semua mendunggu ceramah dan nafahat ramadhaniyah khususnya ceramah tentang perang Badar yang dijanjikan beliau akan diutarakannya pada pertengahan bulan yang suci Ramadhan.

Akan tetapi Allah telah merencanakan kematian beliau di hari itu yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Pada saat itu Sayyid Mohammad bin Alwi al Maliki mendapatkan serangan jantung secara mendadak dan segera dibawa kerumah sakit. Hanya beberapa jam saja beliau tinggal di rumah sakit dan dengan kesedihan yang dalam diberitakan beliau telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Beliau wafat hari jumat tgl 15 ramadhan 1425 H ( 2004 M) dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma'la disamping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu disini.

Dan yang menyaksikan pemakaman beliau hampir seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri. Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, setelah disholatkan di Masjidil Haram ba'da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza'. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat. Ketika jenazah Sayyid Muhammad Al Maliki hendak dishalatkan di Masjidil Haram, ribuan warga kota Mekkah bergantian menggusung jenazahnya. Dikabarkan toko-toko di sekitar Masjidil Haram yang dilewati jenazah mematikan lampu sebagai tanda dukacita. Kebesaran keluarga Al Maliki, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara Afrika, Mesir, dan Asia Tenggara. Jadi tidak heran dengan meninggalnya Sayyid Muhammad Al Maliki umat Islam telah kehilangan satu ulama yang telah mengoreskan tinta sejarah perjuangan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini yang menjadi tauladan buat kita semua.

Selamat tinggal ayah yang berhati baik. Selamat tinggal sosok tubuh yang pernah menanamkan hikmah, ilmu, teladan dihati hati kami. Selamat tinggal pemimpin umat yang tak bisa kami lupakan dalam pendiriannya dan keikhlasannya. Selamat tinggal pahlawan yang jujur, ikhlas dalam amal dan perbuatanya. Selamat jalan… selamat jalan,.. kebaikan dan kemulyaan kamu telah meliputimu semasa hidupmu dan disaat wafatmu. Kamu telah hidupi hari hari mu didunia dengan mulia, dan sekarang kamu telah terima imbalannya disaat wafatmu pula dengan mulia. Jika sekarang kita telah berpisah untuk sementara, maka kami pasti akan menyusulmu Insya Allah dan kita pasti akan bertemu dan berkumpul kembali.

Murid Beliau di Indonesia

Sayid Muhammad Al Maliki mendirikan tidak kurang 30 buah pesantren dan sekolah di Asia Tenggara. Karangannya mencapai puluhan kitab mengenai usuluddin, syariah, fikih dan sejarah Nabi Muhammad. Ia mendapat gelar profesor dari Universitas Al-Azhar pada tanggal 6 Mei 2000. Ratusan murid yang menampa pendidikan di pesantrennya, biaya makan dan pemondokan ditanggungnya, alias gratis.

Menurut Habib Abdurahman A Basurrah, wakil sekjen Rabithah Alawiyah yang lama mukim di Arab Saudi, di Indonesia di antara murid-murid Al-Maliki banyak yang menjadi ulama terkenal dan pendiri dari berbagai pesantren. Murid-muridnya itu antara lain Habib Abdulkadir Alhadad, pengurus Al-Hawi di Condet, Jakarta Timur; Habib Hud Baqir Alataspimpinan majelis taklim As-Shalafiah; Habib Saleh bin Muhammad AlhabsjiHabib Naqib Bin Syechbubakar yang memimpin majelis taklim di Bekasi; Novel Abdullah Alkaff yang membuka pesantren di Parangkuda, Sukabumi.

Di antara ulama Betawi lainnya yang pernah menimba ilmu di Makkah adalah KH Abdurahman Nawi, yang kini memiliki tiga buah madrasah/pesantren masing-masing di Tebet, Jakarta Timur, dan dua di Depok. Masih belasan pesantren dan madrasah di Indonesia yang pendirinya adalah alumni dari Al-Maliki. Seperti KH Ihya Ulumuddin yang memiliki pesantren di Batu, Malang. Demikian pula Habib Muhammad bin Ali Al-Habsy serta putranya Habib Ali bin Muhammad Al-habsy pengasuh Pesantren Riyadlus Sholihin di Ketapang (Probolinggo), dan Pondok Pesantren Genggong, juga di Probolinggo.

Read more »

16/12/11

Album Haul Habib Muhammad Ke 4















Pada tanggal 8 Desember 2011 lalu, PP Riyadlus Sholihin Rejing yang diasuh oleh KH.M. Anwar menggelar acara haul almarhum almagfurlah Habib Muhammad bin Ali Al-habsy. Acara tersebut merupakan acara tahunan yang istiqomah digelar oleh PP Riyadlus Sholihin Rejing sebagai wujud dari pengabdian pesantren kepada Sang Faunding Fadher yaitu Habib Muhammad Al-Habsy pengasuh PP Riyadlus Sholihin Ketapang. Hadir dalam acara tersebut Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy putra pertama Almarhum, juga Habib Abdurrahman Ba'aly dari Besuk serta Habaib dan ulama' yang lain.

Read more »